menatap planet-planet mati
angin kau tampar wajahku
sirna segala kesombonganku kuisi dengan cahayamu
disini aku berdiri menatap planet-planet mati
hujan kau terjang wajahku
mencampakkan segala gundahku
kubiarkan mengalir di tapakku
kurapatkan barisanku
kuayun langkahku padamu
disini aku berdiri
menatap planet-planet mati
mentari kau bakar jidatku
hangus segala kebimbanganku
terangi nur segala qalbu
kurebah sujud di kakimu
terbakar darahku segala jingga
tertabur kembang selaksa zaqqum
berpucuk kobar api iblis
kusiram dengan air telaga haudl
terus menerus kutetesi maullah
mengalir di urat nadi
kubiarkan jadi telaga pasti
(Makassar, 1 November 1997)
Puisi dari Majalah Kebudayaan Wolio (Buton) Molagi Edisi 08 Thn II Mei-Juni 2000, Shafar-Rabiul Awal 1421 H.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar