Rabu, Februari 18, 2009

Bagai Kaca (Istiqamah II)

dulu tanah ini retak lalu mekar
dirajam kemarau tak kunjung jeda
kini tanah ini basah

gerimis ditebar pada mulanya

lalu tumpah tercurah-curah

aku berdiri di pinggir pematang itu
saat fajar di horizon sujud di kakimu
terbawa serta setanggi tanah sawah
kulepaskan rongga dadaku
kuhirup harumnya padi beranjak dewasa
berjajar rebah sujud di kakimu

kuayun kakiku pada bumimu
biarkan terbenam di lumpur sampai lutut
air bagai kaca pantulkan wajahmu
pecah riaknya kaburkan pandangku
menabrak ilalang tegak liar menggayut
diantara shaf padi merunduk sujud
geliatnya gemulai terbangkan kupu-kupu

terus kuayun langkahku
susuri lembah sawah menghijau
kulihat boneka pengusir burung
tersalib di bandul pada dua kutub
dihalaunya burung juga cecurut
ratusan pipit merpati berlalu riuh
kepakkan sayap memetik bulirnya

di ujung bocah-bocah meracau
rebah di punggung gembalakan kerbau
lenguhannya disebar pada empat penjuru
tertiup seruling larasnya berdelau
mengembara di tanah-tanahmu

pada lembut lumpur tanahmu
terus kuayun langkahku
pada air pantulkan wajahmu terus kutetesi dzikirku
pada riaknya kaburkan pandangku
terus kulacak, kuurai, kuendapkan di telaga itu
dan terus kulukis di cakrawala keagungan qalammu

(Makassar, 20 Mei 1998)

Puisi dari Majalah Kebudayaan Wolio (Buton) Molagi Edisi 08 Thn II Mei-Juni 2000, Shafar-Rabiul Awal 1421 H.

Tidak ada komentar: